Semuanya biasa saja. Nggak ada yang spesial, nggak ada yang khusus. Sama seperti kelas-kelas lain, seperti remaja-remaja lain, seperti waktu-waktu lain, kebersamaan kita terasa biasa saja.
Biasa.
seperti daun kering yang biasa jatuh kala terhempas angin.
ya, semuanya terasa sungguh biasa.
tak ada yang benar-benar spesial.
Biasa,
seperti derik jangkrik yang biasa terdengar kala malam hari
seperti petang-petang yang biasa menyenandungkan ayat-ayat tuk direnungi,
seperti barisan sepeda motor di pangkalan dekat tanah perjuangan kita.
seperti Ahmad yang biasa bermain dengan warna melalui tangan karyanya
seperti Arda yang begitu cinta akan manusia dan segala antek-anteknya
seperti Widda, yang baginya musik adalah biasa yang tidak biasa
seperti Choy, yang diam-diam biasa mengamati, berfikir, dan menerka
seperti Ucit, si pencetus yang biasa untuk bersikap biasa saja
seperti Rowi, yang biasa dengan
mindset andalannya; keluarkan segalanya!
atau seperti Hani, yang biasa dengan kebersamaan suka dan duka
Alam pun bilang semuanya biasa-biasa saja
biasa tanpa kata,
biasa tak berucap,
biasa menarik makna dalam diam.
seperti Hilya yang biasa kagum atas keelokan warna ungu
sepeti Baim yang biasa memecah hening meski hanya berkata satu
seperti Ichwan, biasa membaca buku, biasa mengikat ilmu
seperti Itta, seorang yang biasa menganggap tak perlu kau undur berita itu
seperti Nia yang biasa tuliskan daftar listodo dalam sebuah buku
seperti Nisa; yang biasa berkata buat hati tertawa dalam ragu
seperti Agung, yang biasa untuk utamakan masjid dulu
juga seperti Fadly, biasa melakukan yang terbaik untuk hasil yang lebih seru
biasa.
biasa, namun tak hambar
biasa memang, namun terasa meski tanpa garam
biasa.
seperti deru mobil yang biasa terdengar dari jalan sana.
Seperti Raka yang biasa mendengar melodi sambil bermain jemari
seperti Riris, yang biasa
nggak mengerti tentang dirinya sendiri
seperti Dece yang biasa buat suasana gempar penuh dengan imaji dan kreasi
seperti Yasmin yang biasa mendengarkan dengan perhatikan berbagai sisi
dan seperti Ucay, yang biasa menebar senyum tak terkecuali pada diri sendiri..
Betul, Bukan?
bukankah semuanya biasa-biasa saja?
meski ada intrik, ada kisah, ada canda, ada tawa, ada suka, ada duka, ada semua rasa.
semuanya benar-benar biasa.
pertemuan biasa
perpisahan biasa
kelak, untuk perjumpaan yang biasa
seperti hujan yang biasa turun dari langit
seperti katak yang biasa melompat
seperti mentari yang biasa terbenam di sebelah Barat
biasa.
sepertimu wahai sobat.
seperti kita,
seperti espresso.
Ya,
Seperti
ESPRESSO,
Es Peres Pake Soda.
hidup ini biasa.
biasa indah, bila bersama. :)
-Riz-